Jumat, 06 Juli 2012

Misi Manusia












Islamedia - Tugas manusia sebagai khilafah adalah al-imarah (membangun) dan ar-riayah (memelihara). Cara melaksanakan tugas ini adalah amar ma’ruf nahiy anil mungkar. Pola penumbuhan tugas khilafah adalah dengan membangun dan memelihara yang berkaitan dengan unsur materi dan ruhani. Membangun alam ini dengan melakukan arahan yang akan menghasilkan peradaban, manakala cara syariat akan menghasilkan akhlak. Memelihara alam ini dengan memberikan harapan sehingga menghasilkan balasan yang baik, manakala cara menakuti diancam dengan hukuman. Manusia diciptakan Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya sehingga dari ibadah ini muncul ketakwaan. Dengan takwa manusia memperoleh izzah yang menjadi bekal tugas khalifahnya terhadap manusia dan alam. Tugas khalifah di muka bumi adalah al-imarah (membangun) dan ar-riayah (memelihara) dengan cara amar ma’ruf nahi munkar. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah yang mengemban amanah untuk mengelola alam dan manusia secara baik. Tugas khilafah berupa membangun dan memelihara alam ini merupakan pekerjaan berat tetapi mampu dilakukan oleh manusia karena sesuai dengan potensi yang dimiliki manusia. Khalifah berfungsi untuk membangun dan memelihara lima perkara yaitu: diin, nafs, akal, harta dan nasl (keturunan). Memelihara kelima perkara tersebut dilakukan dengan dakwah mengajak kebaikan dan melarang kemungkaran sehingga Allah akan perlihatkan yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil. Syarat untuk mencapai fungsi khalifah dengan baik memerlukan beberapa kekuatan yaitu: kekuatan akidah, kekuatan akhlak, kekuatan jamaah, kekuatan ilmu, kekuatan harta, dan kekuatan jihad. Oleh : Prof. Dr. Irwan Prayitno, Psi, MSc Gubernu Sumatera Barat

Kader Imun VS Kader Steril















Islamedia - Seorang al-ustadz pernah menyampaikan bahwa “Proses Tarbiyah ini harus bisa menghasilkan kader yang imun bukan sekedar kader yang steril, karena Meningkatkan Imunitas itu sama pentingnya dengan menjaga sterilitas“. Dalam konteks pembinaan, kader yang steril adalah kader yang sudah terbiasa dengan lingkungan yang sudah terjaga, terisolasi dan jauh dari pengaruh lingkungan buruk. Sedangkan kader yang imun adalah kader yang sudah dipersiapkan untuk bisa menjaga dan membentengi diri dari pengaruh lingkungan luar.Ia membangun ‘daya tahan’ terhadap perubahan konsisi lingkungannya. Kader yang imun sudah terbina untuk tetap terjaga dalam kondisi dan situasi seperti apapun, hatta ketika berada pada kondisi terburuk sekalipun. Sehingga ketika ia sudah keluar dari masa ‘karantina’ atau masa sterilisasi, ia tak mudah terkontaminasi dengan keadaan sekitar. Dakwah kampus misalnya, sering kita mendengar bahwa ada aktivis dakwah kampus yang semasa kuliahnya sangat begitu aktif dalam aktivitas dakwah bahkan menjadi salahsatu penggeraknya, namun ketika sudah lulus kuliah dan berada dalam dunia kerja, seakan militansi yang selama ini ada luntur seketika. Tak ada lagi heroisme yang dulu ada, saat di kampus merasa begitu haus akan ilmu, berjalan mengunjungi satu majlis ke majlis lainnya di kampus. Namun, setelah lingkungan barunya tidak menyediakan fasilitas serupa, semangat menuntut ilmupun dengan sendirinya semakin memudar. Enggan mendatangi majlis ilmu dengan alasan kerja atau keluarga. Seorang ikhwan misalnya, bila yang dibangun semasa di kampus hanya pada tataran sterilisasi diri dari pergaulan maka akan terjadi shock culture dan bisa jadi membawanya pada kondisi kefuturan. Atau pada diri akhwat, bila tak meningkatkan imunitas saat masa-masa penanaman ideology di kampus aka nada kemuungkinan misalnya, semakin memperkecil atau memendekkan jilbab yang dipakainya. Oleh karenanya, penting dibangun sebuah imunitas dalam diri seorang aktivis dakwah, agar kapan dan dimanapun ia berada, ia tetap bisa mewarnai lingkungan, bukan terwarnai oleh lingkungannya. Yakhtalitu walakin yatamayyazun. Seorang kader bisa mewarnai bukan terwarnai. Kadang ada diantara kita yang sudah terlanjur merasa nyaman dengan lingkungannya, sehingga ketika memasuki dunia baru yang mungkin bertolak belakang, ia tak mampu menjaga keistiqomahannya seperti dalam lingkungan yang homogen tadi. Akan tetapi, jangan sampai kita cukup berhenti dalam lingkungan steril itu. Karena, mau tidak mau, suatu saat kita pasti akan dihadapkan pada sebuah lingkungan dimana tingkat heterogenitasnya tinggi. Orang-orang dengan berbagai karakter dan worldview yang berbeda akan membaur membentuk suatu komunitas baru yang mungkin termasuk kita di dalamnya. Wallahu A’lam bish showwab 


Oleh : Jupri Supriadi

Guru Ku














Islamedia - Pagi itu, jam 08.00 wib, ahad 7 Juni 2026, jalan By Pass raya kota Padang sudah mulai agak ramai dengan kendaraan bermotor. Jalan dua jalur yang sangat lebar ini memang telah menjadi icon kota Padang. Disamping sebagai pusat kota dengan komplek perkantoran pemdanya yang megah, dikiri-kanan jalannya dipenuhi oleh gedung-gedung bertingkat. Perkantoran, pusat-pusat perbelanjaan, hotel berbint...ang lima, kampus Universitas Internasional Bung Hatta, Rumah Sakit Internasional Semen Padang dan dealer-dealer resmi mobil seperti Mitsubishi, Toyota dan Honda. Sebuah sedan BMW 780i terbaru meluncur pelan di dekat lampu merah lubuk minturun. Tiba-tiba sedan mewah tersebut berhenti di tepi jalan, tepat di depan seorang Ibu yang sedang berdiri menunggu angkot. Seorang lelaki muda, gagah, berpakaian batik, berpenampilan necis dan rapi turun dari sedan tersebut menghampiri sang ibu. “Assalamu’alaikum Buk?, ini Ibuk Nurhayati, kan?” tanya pemuda tersebut. Perempuan berumur 65 an tahun itu kaget, tidak menyangka lelaki parlente pemilik sedan mewah itu menyapa dirinya. “wa’alaikum salaam”, jawabnya larih dan agak gugup. “Ibu lupa ya, dengan saya?” Tanya lelaki itu lagi tanpa menunggu jawaban sang ibu. Sekejap ibu itu terdiam memandang ragu. “Maaf, kamu siapa nak? Nama Ibuk memang Nurhayati” “Alhamdulillah, ternyata saya nggak salah tebak. Saya Andi Buk, murid Ibuk saat di SMA 7 dulu. Saya tamatan tahun 2012.” Dengan sedikit merunduk, Andi menyalami mantan Gurunya itu. Buk Nurhayati pun tersenyum. “Andi.. andi, kamu bikin Ibuk kaget saja. Ibuk kira siapa? Waduh, anak ibuk dah hebat dan sukses sekarang…”. “Alhamdulillah Buk, berkat didikan dan doa Ibuk. Ibuk mau kemana?” Tanya Andi kepada Buk Nurhayati “Ibuk mau ke pasar tabing, ada sedikit yang mau ibu beli.” “Kalau begitu, biar saya anta raja Ibuk. Ayo Buk, silakan naik.” Andi membukakan pintu sedannya. “Gak usah Andi, biar Ibuk naik angkot aja. Banyak angkot kok lewat sini. Merepotkan..!”. “Gak apa-apa Buk, Andi gak repot. Kan ini mobil anak Ibuk sendiri.” Di dalam mobil, andi dan Buk Nurhayati bercerita panjang tentang kisah-kisah dulu di SMA 7. Andi menceritakan kuliahnya semenjak S1 di Unand, lalu S2 di ITB dan mendapat beasiswa S3 di Jepang. Sambil S3 juga sempat bekerja di sebuah perusahaan IT di jepang sehingga bisa menabung. “Alhamdlillah, Andi sudah 2 tahun menjadi dosen di Unand. Disamping itu Andi ada sedikit bisnis IT juga,” ujar di sela-sela obrolannya. Buk Nurhayati bukan main senangnya mendengar penuturan mantan muridnya itu. “Ibuk bangga dengan kesuksesan Andi. Bagi seorang guru, inilah puncak kebahagiaannya. Ketika anak-anak didiknya berhasil dan sukses.” “Ibuk nggak menyangka, Andi yang dulu biasa-biasa saja di kelas, sekarang sudah menjadi orang hebat..” Sesampai di tabing, Andi menunggu Buk Nurhayati berbelanja. Dia sudah berjanji akan mengantar gurunya itu sampai ke rumah. Walaupun sang Guru merasa agak keberatan, namun karena melihat anak didiknya ini sangat serius dan tulus, akhirnya beliau bersedia. Hanya 30 menit Buk Nurhayati pun sudah selesai membeli keperluannya. “Ibuk tinggal dimana?” Tanya Andi kepada Buk Nurhayati setelah mobil dinyalakannya. “Ibu tinggal di komplek perumahan Villa Anggrek, dekat dengan kampus UIN Imam Bonjol sungai bangek. Kita lurus aja dari arah tabing ini ke arah lubuk minturun. Nanti sesampai di pertigaan kita belok kiri.” Jawab Buk Nurhayati Andi segera membawa mobilnya kembali ke arah bypass menuju lubuk minturun. Sesampainya di lampu merah ikur koto, seharusnya mobil mengambil jalan lurus ke arah lubuk minturun, tetapi Andi malah belok ke kanan ke arah aie pacah pusat pemerintahan kota Padang. “Ei, Andi mau kemana ini? Kok nggak berjalan lurus?” Tanya Buk Nurhayati. “Jangan cemas Buk, andi ada sedikit keperluan. Yang penting, andi akan antarkan Ibuk sampai ke depan pintu rumah..?” jawab andi sambil tersenyum. Buk Nurhayati hanya terdiam, dalam pikirannya penuh pertanyaan, mau kemana Andi ini. Andi membawa mobilnya melaju melewati jalan bypass yang lebar dan bersih. Sesampainya di depan Ar Risalah Hypermart, andi membelokkan mobilnya dan parkir di area parkir hypermart tersebut. “Ayo Ibuk, kita masuk sebentar”, kata Andi sambil keluar dari mobilnya. Dengan masih terbengong-bengong, Buk Nurhayati pun keluar dan berjalan mengikuti muridnya menuju Ar Risalah hypermart. Sesampai di dalam, Andi membawa Ibuk gurunya menuju lantai 3, pusat penjualan busana muslimah dan souvenir Islam. “Andi mohon maaf sama Ibuk kalau Andi telah lancang. Izinkan andi membalas sedikit dari jasa-jasa Ibuk yang telah mendidik dan mangajar Andi ketika SMA dulu, sehingga Andi menjadi orang seperti yang Ibuk lihat sekarang ini. Sungguh jasa Ibuk tak akan terbalaskan. Sekarang silakan ibuk mau beli apa saja, ambil apa saja, jangan Ibuk ragu dan sungkan, andi ingin memberikan sedikit bakti andi kepada Ibuk”. Kata andi kepada Ibuknya. Betapa kagetnya buk Nurhayati mendengar perkataan muridnya ini. Suatu yang tak terbayangkan sebelumnya. Dengan berkaca-kaca matanya, Buk Nurhayati menjawab: “Terimakasih anak Ibuk, Andi. Kesuksesan dan keberhasilanmu bagi Ibuk sudah lebih dari cukup. Bahkan itulah puncak kebahagian Ibuk. Tak usah andi repot-repot membalasnya. Seorang guru sangat berbahagia ketika anak-anak didiknya berhasil, sukses menjadi orang, berakhlak mulia, santun, berbakti kepada orang tuanya, mengabdi untuk kepentingan bangsa, Negara dan agamanya. Tak ada lagi kebahagian yang lebih dari itu. Tak usah Andi susah-susah bawa Ibuk ke sini”. “Iya Buk. Sejak Ibuk dan para guru di sekolah kita dulu mengajarkan kepada Andi dan kawan-kawan tentang karakter dan kepribadian, tentang akhlak mulia dan sopan santun, tentang tugas kita sebagai hamba Allah di muka bumi, sejak itu pula Andi berusaha memperbaiki diri. Ibuk tidak sekedar mentransfer ilmu dan pengetahuan kepada kami. Tapi lebih dari itu, ibuk telah tanamkan iman, nilai dan karakter dalam diri kami. Dan itu sangat mahal harganya.” Pagi itupun Andi membelikan beberapa stel pakaian untuk Buk Nurhayati, seperangkat mukena, kain sarung dan sajadah serta sebuah mushaf Al Quran ekslusif untuk gurunya tercinta. Lalu Andipun mengantarkan buk Nurhayati sampai ke rumahnya di komplek perumahan Villa Anggrek. Hari itu menjadi sangat istimewa bagi Buk Nurhayati. Allah telah takdirkan dia bertemu dan melihat sebagian dari hasil kerjanya sebagai guru 14 tahun yang lalu. (mudah-mudahan bukan hanya khayalan) Oleh : Irsyad Syafar, LC, M.Ed Pimpinan Perguruan Islam/Pesantren Ar-Risalah Sumatera Barat